KH Ahmad Dahlan dan Biografinya



Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868 – meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antaraWalisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa. Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha danIbnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepadaSyeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Disamping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.
Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain. Saat itu Ahmad Dahlan sempat mengajar agama Islam di sekolahOSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda untuk anak-anak priyayi. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Maka dari itu kegiatannya dibatasi. Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-Iain telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Ujung Pandang, Ahmadiyah di Garut. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan adanya jama'ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam.
Berbagai perkumpulan dan jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, diantaranya ialah Ikhwanul-Muslimin,[5]Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba,Ta'awanu alal birri, Ta'ruf bima kanu wal- Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi.
Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur van Lith pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katolik. Pada saat itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya.
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah AIgemeene Vergadering (persidangan umum).



Biografi Hasyim Asy'ari Sang Pejuang Syariah



Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering diejaAsy'ari atau Ashari (lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 – meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia. Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren ia dijuluki dengan sebutan Hadratus Syeikh yang berarti maha guru.

K.H Hasjim Asy'ari adalah putra ketiga dari 10 bersaudara .Ayahnya bernama Kyai Asy'ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Sementara kesepuluh saudaranya antara lain: Nafi'ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi dan Adnan. Berdasarkan silsilah garis keturunan ibu, K.H. Hasjim Asy'ari memiliki garis keturunan baik dari Sultan Pajang Jaka Tingkirjuga mempunyai keturunan ke raja Hindu Majapahit, Raja Brawijaya V(Lembupeteng). Berikut silsilah berdasarkan K.H. Hasjim Asy'ari berdasarkan garis keturanan ibu: Hasjim Asy'ari putra Halimah putri Layyinah putri Sihah Putra Abdul Jabar putraAhmad putra Pangeran Sambo putra Pengeran Benowo putra Joko Tingkir(Mas Karebet) putra Prabu Brawijaya V (Lembupeteng)

Ia menikah tujuh kali dan kesemua istrinya adalah putri dari ulama. Empat istrinya bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Salah seorang putranya, Wahid Hasyim adalah salah satu perumus Piagam Jakarta yang kemudian menjadi Menteri Agama,sedangkan cucunya, Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden Indonesia.

K.H. Hasjim Asy'ari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, ia berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan diBangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.

Pada tahun 1892, K.H. Hasjim Asy'ari pergi menimba ilmu ke Mekah, dan berguru pada Syekh Ahmad Khatib Minangkabau,Syekh Mahfudh at-Tarmisi, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said Yamani, Syekh Rahmaullah,Syekh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Husein Al-Habsyi.

Di Makkah, awalnya K.H. Hasjim Asy'ari belajar dibawah bimgingan Syaikh Mafudz dari Termas (Pacitan) yang merupakan ulama dari Indonesia pertama yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Syaikh Mafudz adalah ahli hadis dan hal ini sangat menarik minat belajar K.H. Hasjim Asy'ari sehingga sekembalinya ke Indonesia pesantren ia sangat terkenal dalam pengajaran ilmu hadis. Ia mendapatkan ijazah langsung dari Syaikh Mafudz untuk mengajar Sahih Bukhari, dimana Syaikh Mahfudz merupakan pewaris terakhir dari pertalian penerima (isnad) hadis dari 23 generasi penerima karya ini. Selain belajar hadis ia juga belajar tassawuf (sufi) dengan mendalami Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

K.H. Hasjim Asy'ari juga mempelajari fiqih madzab Syafi'i di bawah asuhan Syaikh Ahmad Katib dari Minangkabau yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Di masa belajar pada Syaikh Ahmad Katib inilah K.H. Hasjim Asy'ari mempelajari Tafsir Al-manar karya monumental Muhammad Abduh. Pada prinsipnya ia mengagumi rasionalitas pemikiran Abduh akan tetapi kurang setuju dengan ejekan Abduh terhadap ulama tradisionalis.

Gurunya yang lain adalah termasuk ulama terkenal dari Banten yang mukim di Makkah yaitu Syaikh Nawawi al-Bantani. Sementara guru yang bukan dari Nusantara antara lain Syaikh Shata dan Syaikh Dagistani yang merupakan ulama terkenal pada masa itu

Pada tahun 1899, sepulangnya dari Mekah, K.H. Hasjim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebu Ireng, yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20.
Pada tahun 1926, K.H Hasjim Asy'ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama.
K.H. Hasjim Asy'ari banyak membuat tulisan dan catatan-catatan. Sekian banyak dari pemikirannya, setidaknya ada empat kitab karangannya yang mendasar dan menggambarkan pemikirannya; kitab-kitab tersebut antara lain:
·         Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama'ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa'ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid'ah(Paradigma Ahlussunah wal Jama'ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid'ah)
·         Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW)
·         Adab al-alim wal Muta'allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta'allim fi Ahwali Ta'alumihi wa maa Ta'limihi (Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar)
·         Al-Tibyan: fin Nahyi 'an Muqota'atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan)
·         Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran
dasar dia tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU.
·         Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah
dan Imam Ahmad bin Hanbal tentunya memiliki makna khusus. Mengapa akhirnya mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut? Temukan jawabannya di kitab ini.
·         Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat edisi 15 Agustus 1959.
·         Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama Hidup
ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.
·         Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat Merupakan kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.

Sumber : wikipedia



Menggagas Bisnis Alternatif

Mengapa perlu berbisnis? Mungkin itu salah satu pertanyaan mengapa kita perlu berbisnis. Pertama karena untuk saat ini mencari lapangan pekerjaan sangat sulit, persaingan intelegensi begitu berat, hampir setiap tahun perguruan tinggi di nusantara meluluskan ribuan sarjana. Sementara lapangan pekerjaan tak kunjung bertambah. Oleh karena itu, kecerdasan intelektual saja tidak cukup, harus dibarengi dengan kemampuan skill, dan entreprenership. Untuk kondisi yang belum ideal, kita butuh kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja bukan mencari pekerjaan.


Sebelum menyasar untuk objek bisnis, terlebih dahulu kita harus mengetahui segmen mana masyarakat yang hendak kita sasar, apakah kelas bawah, menengah, kelas atas atau produk akan menyasar semua kalangan. Serta kita harus memastikan bahwa produk kita bukanlah produk jemu (produk yang sudah menjamur), kita harus mempunyai inovasi agar produk kita berbeda dengan yang lain sekalipun mempunyai fungsi yang sama.


Dalam berbisnis hanya ada dua kemungkinan jika tidak berbisnis barang tentu saja berbisnis dalam bidang jasa. Jika kita memilih berbisnis barang, maka terlebih dahulu kita harus memikirkan masalah produksi. Misal, apakah bahan baku mudah di dapat, apakah modal produksi sudah ada, apakah area produksi memenuhi syarat dan barang2 hasil produksi mudah di distribusikan.


Sebaliknya jika menyasar berbisnis jasa, maka kita tidak perlu terlalu pusing mikirin masalah produksi tetapi fokus pada lingkungan dan pemasaran. Seperti Apakah area kita mudah diakses masyarakat, apakah pelayanan kita memuaskan masyarakat dst. Berbisnis jasa ibarat kita memancing ikan. Dikasih umpan apapun kalau memancingnya di sungai yang jarang ikan, yaa umpan kita akan lama dimangsa. Tetapi sebaliknya jika kita memancing ikan di kolam ikan ya cepat di mangsa, kenapa karena banyak ikan. Itu hanya analogi saja, bahwa berbisnis jasa lebih mengedepankan area yang strategis.


Begitulah dalam berbisnis kita tidak hnya mengejar profit semata tetapi juga value/ nilai. Sebagai seorang muslim tentu dalam berbisnis tidak melepaskan nilai2 Islam guna mencapai profit. Prinsip berbisnis Islami adalah bukannya mengeluarkan biaya sekecil2nya untuk memperoleh keuntungan sebesar2nya. Tetapi mengeluarkan biaya yang wajar untuk mendapatkan keuntungan yang wajar n barokah.

Adapun input bisnis meliputi berikut:

1.    SDM Dalam berbisnis, tentu kita terlebih dahulu harus mempunyai SDM yang menguasai bisnis, baik ilmu, skill dan wawasan. Baik itu bisnis dilakukan oleh kita individu maupun dilakukan oleh karyawan. Peningkatan kualitas SDM harus terus dilakukan agar bisnis tidak hanya dijalankan oleh tenaga yang berkualitas n profesional tetapi juga bisnis bisa bersaing di pasaran.

2.    SDA sangat penting terutama jika bisnis itu berupa barang2, kita membutuhkan bahan baku yang terus diproduksi. Bahan baku tentu dipilih yang berkualitas agar produk kita pun berkualitas, namun dalam berproduksi harus seimbang dengan pengeluaran/ barang yang sudah laku terjual. Jangan sampai kita memproduksi terlalu over sehingga terjadi pengendapan sementara distribusi tidak berjalan dengan baik.

3.    Modal kerja Dalam berbisnis tidak munafik kita membutuhkan modal. Tetapi perlu diketahui bahwa modal tidak selamanya bernilai uang, keahlian, ilmu dan wawasan juga modal. Selain itu kita bisa berkerjasama dengan pihak2 yang mempunyai modal berupa uang dengan sistem bagi hasil. Naah dalam hal ini hanya butuh skill, wawasan n trust/ kepercayaan.

Oleh : Ika Mutiya SEI

Pangeran Diponegoro Sang Pejuang Islam



Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Pangeran Diponegoro terkenal karena memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintah Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.
Pangeran Dipanegara adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dengan nama Mustahar dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Dipanegara bernama kecil Raden Mas Antawirya.
Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Dipanegara menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Dipanegara setidaknya menikah dengan 9 wanita dalam hidupnya, yaitu:
·         B.R.A. Retno Madubrongto puteri kedua Kyai Gedhe Dhadhapan;
·         R.A. Supadmi yang kemudian diberi nama R.A. Retnakusuma, putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang;
·         R.A. Retnodewati seorang putri Kyai di wilayah Selatan Jogjakarta;
·         R.Ay. Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir;
·         R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirdjo, tetapi lain ibu;
·         R.Ay. Ratnaningsih putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan;
·         R.A. Retnakumala putri Kyahi Guru Kasongan;
·         R.Ay. Ratnaningrum putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II.
·         Syarifah Fathimah Wajo putri Datuk Husain (Wanita dari Wajo, Makasar), makamnya ada di Makasar. Syarifah Fathimah ini nasab lengkapnya adalah Syarifah Fathimah Wajo binti Datuk Husain bin Datuk Ahmad bin Datuk Abdullah bin Datuk Thahir bin Datuk Thayyib bin Datuk Ibrahim bin Datuk Qasim bin Datuk Muhammad bin Datuk Nakhoda Ali bin Husain Jamaluddin Asghar bin Husain Jamaluddin Akbar.
Dipanegara lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Dipanegara menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danureja bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Dipanegara.

Perang Diponegoro
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Dipanegara di desa Tegalrejo. Saat itu, ia memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.
Sikap Dipanegara yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Dipanegara menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Dipanegara menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaumkafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Dipanegara membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Dipanegara di Goa Selarong.Perjuangan Pangeran Dipanegara ini didukung oleh S.I.S.K.S. Pakubuwono VI dan Raden Tumenggung Prawirodigdaya Bupati Gagatan.
Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.
Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Dipanegara. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Dipanegara. Sampai akhirnya Dipanegara ditangkap pada 1830.
Perang Diponegoro ada perang terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Dipanegara. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Dipanegara dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Dipanegara terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Dipanegara di Magelang. Di sana, Pangeran Dipanegara menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Perang melawan penjajah lalu dilanjutkan oleh para putera Pangeran Diponegoro. Pangeran Alip atau Ki Sodewo atau bagus Singlon, Diponingrat, diponegoro Anom, Pangeran Joned terus melakukan perlawanan walaupun harus berakhir tragis. Empat Putera Pangeran Diponegoro dibuang ke Ambon, sementara Pangeran Joned terbunuh dalam peperangan, begitu juga Ki Sodewo.
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Dipanegara dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Dipanegara, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Dipanegara kala itu. Kini anak cucu Dipanegara dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.
Penangkapan Diponegoro
·         20 Februari 1830 Pangeran Dipanegara dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.
·         28 Maret 1830 Dipanegara menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Dipanegara agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Dipanegara. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Dipanegara ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.
·         11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedungMuseum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.
·         30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Dipanegara, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Dipasana dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertaleksana, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruna akan dibuang ke Manado.
·         3 Mei 1830 Dipanegara dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.
·         1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.
·         8 Januari 1855 Dipanegara wafat dan dimakamkan di Makassar, tepatnya di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, sekitar empat kilometer sebelah utara pusat Kota Makassar.
.
Dalam perjuangannya, Pangeran Dipanegara dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.
Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Dipanegara dengan Raden Ayu Citrawati. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo sendiri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.
Perjuangan Ki Sadewa untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danureja IV, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.
Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Dipanegara lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Dipanegara, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.
Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Sodewo, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo. Sedangkan untuk mengumpulkan Keluarga Pangeran Diponegoro, Roni Sodewo bersama Hasan Budianto membuat facebook grup bernama Klan Diponegoro. Upaya ini berhasil mengumpulkan silsilah anak cucu Pangeran Diponegoro dari 8 putera Pangeran Diponegoro dari seluruh dunia
Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 12 putra dan 10 orang putri, yang keturunannya semuanya kini hidup tersebar di seluruh dunia, termasuk Jawa, Sulawesi, dan Maluku bahkan di Australia, Serbia, Jerman, Belanda, dan Arab Saudi.

Sumber : wikipedia 






Tips Belanja Makanan Jadi di Outlet



Kebutuhan makanan adalah kebutuhan yang sangat penting . Karena makanan adalah materi yang sangat di perlukan tubuh untuk melangsungkan kehidupan ini. Dimasa sekarang ini banyak di tawarkan aneka macam makanan jadi yang di produksi oleh produsen makanan untuk bisa di persembahkan kepada konsumen setia mereka. Dari banyakanya tawaran jenis makanan jadi, menjadikan kita bingung untuk memilih makanan jadi yang baik ketika kita akan berbelanja di pasar maupun swalayan.

Ada banyak hal yang sering di lupakan konsumen ketika sedang asyik belanja jenis makanan jadi. Salah satunya yaitu melihat dan mengecek masa kadaluarsa makanan di kemasan makanan. Produsen  makanan di wajibkan untuk mencantumkan kode registrasi produk dan masa kadaluarsa agar identitas produk bisa di ketahui, baik itu masa suatu produk atau kapan produk tersebut di produksi . Biasanya produsen yang baik akan mencantumkan asal produk itu, di mana produk itu di produksi.

Berikut ini ada beberapa tips dalam belanja makanan jadi :

  • Pilihlah kemasan produk yang bersih , baik dan tidak rusak
Kemasan yang baik dan tidak rusak akan menjaga isi produk lebih terjamin kualitasnya daripada produk yang kemasannya rusak, seumpama makanan kaleng jika kemasan kalengnya pesok atau berkarat besar kemungkinan makanan ini mengalami kerusakan karena kesalahan proses penyimpanan dan penanganan.

  • Perhatikan masa kadaluarsa produk
Ketika kita membeli produk jangan lupa melihat dan memperhatikan masa kadaluarsa produk. Karena produk merupakan makanan olahan setengah jadi atau  makanan jadi yang mempunyai masa toleransi ketahanan makanan. Makanan yang telah melampau masa kadaluarsa  mengandung bahan bahan berbahaya yang bisa menggangu kesehatan tubuh. Selain itu makanan yang kadaluarsa akan mengalami perubahan kualitas rasa warna dan nutrisi makanan yang terkandung di dalamnya.

  • Pilihlah tempat atau toko yang bersih dan menjamin kualitas produk
Tempat atau toko yang yang menjamin kualitas produk akan memberikan layanan yang bagus kepada konsumen terkait dengan kualitas produk yang berkaitan dengan tem;pat penyimpanan produk yang bagus dan tempat transaksi yang nyaman. Penyimpanan produk yang bagus akan menjaga kualitas produk makanan. Makanan yang di simpan di tempat yang bagus akan lebih tahan lama dan awet daripada makanan yang disimpan di tempat yang yang kurang bagus dan kurang tepat. Penyimpanan yang baik akan memperhatikan letak, intensitas cahaya dan  suhu. Ada jenis jenis makanan tertentu yang memerlukan suhu dan intensitas cahaya yang khusus. Apabila makanan ini di simpan di suhu dan intensitas cahaya sembarangan maka ada jenis makanan yang akan rusak.

  • Pilihlah outlet yang memberikan harga yang kompetitif
Ada jenis outlet tertentu yang memberikan layanan harga hemat pada periode tertentu. Dengan adanya harga yang hemat bisa memberikan kita keuntungn berupa harga yang menguntungkan kantong kita.

  • Jangan tergiur dengan diskon yang murah tanpa mempehatiakan kebutuhan
Harga yang murah memang sangat diidamkan oleh kebanyakan orang, sehingga ketika kita di berikan harga yang murah dengan syarat pembelian tertentu maka kita akan tergoda untuk membelinya dalam jumlah yang besar. Jika kita tidak berniat untuk jual beli sebaikanya kit belanja makanan atau minuman seperlunya saja. Karena jika kita belanja makanan berlebihan, besar kemungkinan makanan itu belum habis kita konsumsi padahal masa kadaluarsa telah habis.

Sejarah Retno Dumilah Srikandi Madiun



Madiun dengan sambal pecel sebagai makanan khasnya  adalah daerah  di Jawa Timur yang terletak di bagian barat, menyimpan banyak riwayat sejarah dan legenda. Di antaranya adalah kisah sejarah tentang dua wanita yang bernama Retno Dumilah atau Retno Jumilah dan Nyi Adisara.
Sebelum membahas kisah Retno Dumilah tersebut, ada baiknya kita menengok sejarah yang melatarbelakanginya. Diceritakan bahwa Senopati atau Sutawijaya, penguasa pertama Kerajaan Mataram, relatif sangat ekspansif selama masa pemerintahannya. Dia berkehendak untuk menguasai tanah Jawa seperti yang pernah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan pendahulunya (Demak dan Pajang).
Senopati tahun 1587 berhasil mengalahkan mertuanya, Sultan Hadiwijaya, Raja di Pajang. Latar belakang penyebabnya ada beberapa kemungkinan. Di antara penyebabnya adalah kebiasaan Sultan Pajang yang suka kawin dan kasus Tumenggung Mayang (anak Tumenggung Mayang meniduri puteri Adiwijaya).
Saat Raja Pajang wafat, tahun 1587, beberapa saat setelah perang dengan Senopati, maka Sunan Kudus mengundang anak dan menantu Sultan Pajang.Di depan khalayak ramai, Aria Pangiri, menantu Adiwijaya yang waktu itu menjadi Adipati Demak, diangkat oleh Sunan Kudus menjadi pengganti Sultan Pajang. Sementara itu Jipang diserahkan kepada Pangeran Banawa (I), anak tertua Sultan Pajang[1].
Adipati Demak setelah pengumuman itu lalu pindah ke Pajang dan membawa banyak orang Demak ke sana. Ketidakadilan timbul sehingga menyebabkan banyak orang Pajang membelot. Di antaranya ada yang ke Mataram.
Kegelisahan di Pajang ini juga dirasakan oleh Pangeran Banawa (I) yang lantas mengirim utusan ke Mataram. Setelah dirayu lebih dari sekali, apalagi Pangeran Banawa berjanji akan menyerahkan tahta Pajang kepada Senopati daripada kepada Aria Pangiri, maka pada pertemuan keduanya di Weru Gunung Kidul, terjadilah kesepakatan Banawa dengan Senopati untuk menyerbu Pajang.
Pajang direbut setelah melalui pertempuran singkat. Kekalahan Aria Pangiri terutama disebabkan karena adanya pembelotan tentaranya. Aria Pangiri tidak dibunuh namun dikabarkan kembali ke Demak. Kabar lain mneyatakan bahwa ia mengungsi bersama keluarganya hingga sampai ke Banten[2].
Banawa diangkat Senopati menjadi Sultan Pajang walaupun sesungguhnya tidak mau. Setahun kemudian, sekitar tahun 1588 ia dikabarkan meninggal atau pergi bertapa. Gagakbaning, adik ipar Senopati, diangkat menjadi adipati di Pajang. Dengan demikian Mataram relatif telah berkuasa atas Pajang, Demak dan berbagai kadipaten bawahan Pajang sebelumnya.
Senopati masih belum puas sebab para penguasa Jawa Timur yang semasa jaka Tingkir tunduk patuh kepada Pajang, beramai-ramai melepaskan diri dan membentuk aliansi di bawah pimpinan Pangeran dari Surabaya.
Untuk mendapatkan kembali legitimasi atas kekuasaannya di Tanah Jawa, sekitar tahun 1589, Senopati mengirim surat kepada Sunan di Giri (kalau tidak Sunan Giri Parapen mungkin anaknya Panembahan Kawisguwa yang merupakan Sunan Giri yang pertama). Senopati meminta ramalan yang berkaitan dengan rencana serangannya ke Jawa Timur.
Sunan di Giri mengundang Senopati. Pada bulan Muharam Senopati bernagkat bersama Adipati Pati. Demak dan Grobogan serta penasehat setianya, Ki Juru Martani/Adipati Mandaraka. Mereka yang disertai sekitar 6000 prajurut sampai di Japan/Mojokerto. Di sana ternyata telah berkumpul para adipati Jawa Timur dipimpin Pangeran Surabaya bersama 40.000 prajurit. Rupanya Mereka bersiap-siap menghalangi serbuan Senopati.
Sunan di Giri mengirim utusan untuk melerai mereka. Dua kali Sunan dari Giri memberikan teka-teki melalui utusannya sehingga perang dapat dicegah dan kembalilah prajurit Mataram ke Jawa Tengah[3].
Setelah Mataram gagal di Mojokerto tahun 1589, Senopati melakukan konsolidasi. Di antaranya adalah mencari dukungan dari para rohaniawan. Dari Sunan Giri ia mendapatkan gelar sebagai panembahan. Sedang dari Sunan yang berada di Kadilangu ia mendapatkan bebrapa pusaka perlambang kesaktian. Di antaranya adalah Kiai Gundil / Kiai Antakusuma dari Sunan Kadilangu.
Senopati juga mencari dukungan dari para penguasa di Jawa Tengah. Baik yang berada di selatan maupun yang berada di utara. Dalam hal ini orang yang berjasa dan berwibawa untuk melakukan hal ini adalah tokoh tua penasehat Sutawijaya yang bernama Ki Juru Martani/ Adipati Mandaraka.
Sementara itu Madiun (yang dipimpin oleh Panembahan/Pangeran Timur, putera bungsu Sultan Trenggana) yang sebelumnya berpihak kepada Mataram, rupanya melakukan pembelotan[4].
Pembelotan tersebut kemungkinan besar terjadi karena (1) Panembahan Emas merasa bahwa dirinya adalah keturunan Raja Demak sehingga derajatnya lebih tinggi daripada derajat Senopati (2) kekuatan Bang Wetan / Jawa Timur yang lebih besar daripada Mataram (3) ancaman Mataram merugikan posisi Madiun sehingga harus dilawan dengan bantuan sekutu-sekutu dari Bang Wetan, serta (4) intrik-intrik atau rayuan para penguasa Jawa Timur agar Madiun berpihak kepada Jawa Timur.
Pada tahun 1590 di bulan Muharam, Senopati, Raja Mataram, dan sekitar 8000 prajuritnya, berangkat ke Madiun(31). Sementara itu di Madiun sudah berkumpul pasukan gabungan dari Jawa Timur (diberitakan sebanyak 70.000 orang). Dikabarkan pasukan Mataram mengambil posisi di Kali Dadung, sebelah barat Madiun. Sementara pasukan Bang Wetan mengambil posisi di sebelah timur sungai.
Melihat bahwa kekuatan pasukannya lebih kecil dibandingkan lawannya, maka Senopati menjalankan taktik. Ia mengirim selirnya, Nyai Adisara, yang diantar oleh 40 orang pengiringnya, diutus menghadap Panembahan Mas / Panembahan Madiun.
Tanpa mendapat kesulitan, tandu yang berisi wanita mempesonakan itu dapat menghadap Panembahan Emas. Ia tidak menyangka dan terpesona oleh kecantikan Nyai Adisara. Tergoda oleh kecantikan Nyai Adisara, Panembahan Emas percaya tawaran tertulis Senopati bahwa ia akan takkluk. Apalagi Nyai Adisara minta air bekas cucian kaki Panembahan Emas untuk dipakai sebagai air minum Senopati.Nyai Adisara pun kemudian kembali ke kemah Senopati di sebelah barat sungai.
Keesokan harinya dikabarkan bahwa sebagian pasukan Jawa Timur pulang kembali ke wilayahnya masing-masing. Sementara yang tinggal kurang waspada.
Senopati lalu melakukan serangan di waktu fajar dari 3 jurusan. Senopati dikisahkan memakai baju Kiai Gundil di atas kuda Puspa Kencana turut serta dalam serbuan tersebut. Kudanya terbunuh sekitar pukul 9 pagi tetapi masih dapat berlari sampai pukul 12. Rupanya pasukan Jawa Timur tidak siap sehingga tidak mampu menjalankan siasat untuk menghadapi serangan tersebut.
Merasa tidak mampu menahan serbuan Senopati, Pangeran Mas dan anaknya (Ca) Lontang lari ke timur (ke Wirasaba/Mojoagung atau ke Japan / Mojokerto), meninggalkan Ratna Dumilah (anak Panembahan Mas/cicit Sunan Kalijaga) yang bertahan di Madiun. Dikabarkan bahwa Retno Dumilah ini sempat bertempur melawan Senopati dengan menggunakan keris Kiai Gumarang walaupun akhirnya kalah dan kemudian menjadi isteri Senopati.Sementara itu adik Retna Dumilah yang bernama Mas (Ca) Lontang kemudian menjadi adipati di Japan (Mojokerto).
Perkawinan Retna Jumilah dengan Sutawijaya membuahkan tiga anak, yakni RM Julig, R Bagus / R Adipati Juminah/Panembahan Madiun dan R Mas Kanitren / Pangeran Adipati Martalaya ing Madiun. Sementara itu perkawinan Nyi Adisara dengan Senopati juga membuahkan anak yang bernama RM Kentol Kajoran/Kajuran.

 sumber : wongwedoknusantara.blogspot.com

Raden Patah Sultan Demak yang Pertama



Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di pulau jawa yang masih dalam kekuasaan Khilafah Turki Utsmani. Kerajaan Demak di pimpin oleh seorang Sultan yang bernama Raden Patah.Raden Patah yang bergelar Senapati Jimbun atau Panembahan Jimbun (lahir: Palembang, 1455; wafat: Demak, 1518) adalah pendiri dan raja Demak pertama dan memerintah tahun 1500-1518. Menurut kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang, ia memiliki nama Tionghoa yaitu Jin Bun tanpa nama marga di depannya, karena hanya ibunya yang berdarah Cina. Jin Bun artinya orang kuat.  Nama tersebut identik dengan nama Arabnya "Fatah (Patah)" yang berarti kemenangan. Pada masa pemerintahannya Masjid Demak didirikan, dan kemudian ia dimakamkan di sana.
Mengikuti pakar Belanda Pigeaud dan De Graaf, sejarahwan Australia M. C. Ricklefs menulis bahwa pendiri Demak adalah seorang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko-po (Pate Rodin senior). Ricklefs memperkirakan bahwa anaknya adalah orang yang oleh Tomé Pires dalam Suma Oriental-nya dijuluki "Pate Rodim (Adipati/Patih Rodim)", mungkin maksudnya "Badruddin" atau "Kamaruddin" (meninggal sekitar tahun 1504). Putera atau adik Rodim dikenal dengan nama Trenggana (bertahta 1505-1518 dan 1521-1546), pembangun keunggulan Demak atas Jawa.
Kenyataan tokoh Raden Patah berbenturan dengan tokoh Trenggana, raja Demak ketiga, yang memerintah tahun 1505-1518, kemudian tahun 1521-1546
.

Asal-usul Raden Patah

Terdapat berbagai versi tentang asal usul pendiri Kerajan Demak.
Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selirCina. Selir Cina ini puteri dari Kyai Batong (alias Tan Go Hwat). Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dariCampa merasa cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan selir Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupatiPalembang. Setelah melahirkan Raden Patah, putri Cina dinikahi Arya Damar (alias Swan Liong), melahirkan Raden Kusen (alias Kin San).
Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Cina adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syaikh Bantong (alias Kyai Batong).
Menurut Suma Oriental karya Tome Pires, pendiri Demak bernama Pate Rodin, cucu seorang masyarakat kelas rendah diGresik.
Menurut kronik Cina dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi alias Brawijaya V) raja Majapahit (versi Pararaton) dari selir Cina. Kemudian selir Cina diberikan kepada seorang berdarah setengah Cina bernama Swan Liong di Palembang. Swan Liong merupakan putraYang-wi-si-sa (alias Hyang Purwawisesa atau Brawijaya III) dari seorang selir Cina. Dari perkawinan kedua itu lahir Kin San(alias Raden Kusen). Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran Jin Bun adalah 1455. Mungkin Raden Patah lahir saatBhre Kertabhumi belum menjadi raja (memerintah tahun 1474-1478). Menurut Slamet Muljana (2005), Babad Tanah Jawi teledor dalam mengidentifikasi Brawijaya sebagai ayah Raden Patah sekaligus ayah Arya Damar, yang lebih tepat isi naskah kronik Cina Sam Po Kong terkesan lebih masuk akal bahwa ayah Swan Liong (alias Arya Damar) adalah Yang-wi-si-sa alias Brawijaya III, berbeda dengan ayah Jin Bun (alias Raden Patah) yaitu Kung-ta-bu-mi alias Brawijaya V.
Menurut Sejarah Banten, Pendiri Demak bernama Cu Cu (Gan Eng Wan?), putra (atau bawahan) mantan perdana menteriCina (Haji Gan Eng Cu?) yang pindah ke Jawa Timur. Cu Cu mengabdi ke Majapahit dan berjasa menumpas pemberontakan Arya Dilah bupati Palembang. Berita ini cukup aneh karena dalam Babad Tanah Jawi, Arya Dilah adalah nama lain Arya Damar, ayah angkat Raden Patah sendiri. Selanjutnya, atas jasa-jasanya, Cu Cu menjadi menantu rajaMajapahit dan dijadikan bupati Demak bergelar Arya Sumangsang (Aria Suganda?).
Meskipun terdapat berbagai versi, namun diceritakan bahwa pendiri Demak memiliki hubungan dengan Majapahit, Cina,Gresik, dan Palembang.

Pendirian Demak

Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur kepulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren.
Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya (alias Bhre Kertabhumi) di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.
Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya (diidentifikasi sebagai Brawijaya V) merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.
Menurut kronik Cina, Jin Bun pindah dari Surabaya ke Demak tahun 1475. Kemudian ia menaklukkan Semarang tahun 1477 sebagai bawahan Demak. Hal itu membuat Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) di Majapahit resah. Namun, berkat bujukan Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel), Kung-ta-bu-mi bersedia mengakui Jin Bun sebagai anak, dan meresmikan kedudukannya sebagai bupati di Bing-to-lo (ejaan China untuk Bintoro).

Konflik Demak dan Majapahit pada Masa Raden Fatah

Versi Perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah babad dan serat, terutama Babad Tanah Jawi danSerat Kanda. Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit.Brawijaya moksa dalam serangan itu. Untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri menduduki takhta Majapahitselama 40 hari.
Versi Kronik Cina dari kuil Sam Po Kong juga memberitakan adanya perang antara Jin Bun melawan Kung-ta-bu-mi tahun 1478. Perang terjadi setelah kematian Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel). Jin Bun menggempur ibu kota Majapahit. Kung-ta-bu-mi alias Bhre Kertabhumi ditangkap dan dipindahkan ke Demak secara hormat. Sejak itu, Majapahit menjadi bawahanDemak dengan dipimpin seorang Cina muslim bernama Nyoo Lay Wa sebagai bupati.
Versi Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “Javaansche Geschiedenis” dan Prof. Moh. Yamin dalam buku “Gajah Mada” mengatakan bahwa bukanlah Demak yg menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V, tetapi adalah Prabu Girindrawardhana. Kemudian pasca serangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya VI, Kekuasaan Girindrawardhana tidak begitu lama, karena Patihnya melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Prabu Brawijaya VII. Perang antar Demak dan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya VII bukan pada masa Raden Fatah dan Prabu Brawijaya V
Pada tahun 1485 Nyoo Lay Wa mati karena pemberontakan kaum pribumi. Maka, Jin Bun mengangkat seorang pribumi sebagai bupati baru bernama Pa-bu-ta-la, yang juga menantu Kung-ta-bu-mi.
Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 dan mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.
Selain itu, Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Petak yang berkisah tentang perang melawan Majapahit. Berita ini melahirkan pendapat kalau Majapahit runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan keluarga Girindrawardhana.
Apakah Raden Patah pernah menyerang Majapahit atau tidak, dia diceritakan sebagai raja pertama Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, ia bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, sedangkan menurut Serat Pranitiradya, bergelar Sultan Syah Alam Akbar, dan dalam Hikayat Banjar disebut Sultan Surya Alam.
Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islampertama di pulau Jawa.
Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaianSalokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.
Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihakMajapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.
Tome Pires dalam Suma Oriental memberitakan pada tahun 1507 Pate Rodin alias Raden Patah meresmikan Masjid Agung Demak yang baru diperbaiki. Lalu pada tahun 1512 menantunya yang bernama Pate Unus bupati Jepara menyerangPortugis di Malaka.
Tokoh Pate Unus ini identik dengan Yat Sun dalam kronik Cina yang diberitakan menyerang bangsa asing di Moa-lok-sa tahun 1512. Perbedaannya ialah, Pate Unus adalah menantu Pate Rodin, sedangkan Yat Sun adalah putra Jin Bun. Kedua berita, baik dari sumber Portugis ataupun sumber Cina, sama-sama menyebutkan armada Demak hancur dalam pertempuran ini.
Menurut kronik Cina, Jin Bun alias Raden Patah meninggal dunia tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Ia digantikan Yat Sun sebagai raja selanjutnya, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.


 sumber wikipedia